Pati – Tim peneliti Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati Jawa Tengah memaparkan hasil penelitian tentang “Identifikasi dan Strategi Peningkatan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Penduduk Usia di Atas 15 Tahun di Kabupaten Pati” dalam forum diseminasi yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Pati, Kamis (4/6/2026).

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh capaian Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Kabupaten Pati yang pada tahun 2025 masih berada pada angka 8,09 tahun. Meskipun menunjukkan tren peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih menghadapi berbagai tantangan sehingga memerlukan strategi khusus untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Tim peneliti menemukan bahwa rendahnya capaian RLS di Kabupaten Pati tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kombinasi faktor yang saling berkaitan, mulai dari motivasi individu, kondisi keluarga, akses terhadap lembaga pendidikan, hingga persepsi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan.

Banyak masyarakat usia produktif yang memilih bekerja setelah menyelesaikan pendidikan dasar atau menengah karena tuntutan ekonomi keluarga. Di sisi lain, sebagian masyarakat menganggap jenjang pendidikan yang telah ditempuh sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak memiliki dorongan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Penelitian juga mengungkap adanya perbedaan karakteristik antarwilayah di Kabupaten Pati. Kecamatan-kecamatan pesisir seperti Juwana dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi sektor perikanan yang mendorong masyarakat lebih cepat masuk dunia kerja. Sementara itu, wilayah seperti Sukolilo, Kayen, dan beberapa daerah lainnya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses pendidikan menengah, biaya transportasi, serta kondisi sosial tertentu yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan masyarakat.

Selain faktor ekonomi, peneliti menemukan bahwa jarak sekolah yang relatif jauh, keterbatasan transportasi, pernikahan usia dini, tanggung jawab rumah tangga, dan rendahnya kesadaran pendidikan jangka panjang turut berkontribusi terhadap rendahnya partisipasi pendidikan masyarakat usia di atas 15 tahun.

Meski demikian, penelitian ini juga menemukan fakta positif. Sebagian besar responden memiliki kesadaran tinggi mengenai pentingnya pendidikan dan menyatakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan apabila tersedia kesempatan dan dukungan yang memadai. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi peningkatan partisipasi pendidikan masyarakat masih sangat besar apabila didukung oleh kebijakan yang tepat sasaran.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa rendahnya RLS berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia, peluang kerja, tingkat kesejahteraan masyarakat, hingga capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pendidikan yang rendah berpotensi memperbesar risiko kemiskinan antargenerasi, membatasi akses terhadap pekerjaan formal, serta menghambat pembangunan daerah secara keseluruhan.

Sebagai tindak lanjut, penelitian ini merekomendasikan sejumlah strategi kebijakan yang dapat diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Pati. Di antaranya adalah perluasan akses pendidikan menengah pada wilayah yang masih terbatas fasilitas pendidikannya, penguatan program pendidikan kesetaraan melalui PKBM hingga tingkat desa, serta optimalisasi peran pesantren melalui pengembangan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).

Selain itu, peneliti juga merekomendasikan penguatan pendidikan berbasis keterampilan (life skill), perluasan layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus, program jemput bola untuk anak tidak sekolah dan masyarakat putus sekolah, serta peningkatan kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Ketua tim peneliti IPMAFA menegaskan bahwa peningkatan rata-rata lama sekolah tidak cukup dilakukan melalui bantuan pendidikan semata, tetapi membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan karakteristik wilayah. Oleh karena itu, strategi peningkatan RLS harus dilaksanakan secara terpadu, inklusif, dan berkelanjutan.

Melalui hasil penelitian ini, IPMAFA berharap rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi landasan penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, menurunkan angka kemiskinan, serta mempercepat pembangunan daerah di Kabupaten Pati.